Jumat, 26 September 2014

Kunang-Kunang

Senja masih tetap sama, masih memerah laksana darahMasih saja sama, dengan senja yang aku dapati kemarin.
Tapi, ada pilu yang menggores batinku di senja iniPada perjumpaanku dengan Kunang-Kunang yang sedang sekarat.
Ia terbang tepat depan wajahku,Berpenjar mengedipkan cahaya dari tubuhnya yang tampak redup.
Saat cahaya jingga berubah jadi hitam.
Kupandangi Kunang-Kunang yang tiba-tiba berubah menjadi begitu banyak menari-nari di depanku.
Kucoba menghitungnya, satu per satu kunang yang kini menjadi terang; menampakkan jelas hitam pekat di sekelilingku.

Saat ku asyik pandangi Sang Kunang-Kunang
Satu diantara mereka lalu menghilang, disusul lainnya yang juga tak menampakkan diri.
Aku meringkih; memanggil Kunang-Kunang untuk tak pergi.
Tapi, dengan ringkihan yang masih aku lantungkan
Tiba-tiba cahaya lampu dari atap rumah kemudian berbalik menguasai gelap
Aku sadar dan sontak jadi malu
Menyaksikan kunag-kunang pergi meninggalkanku
Aku berontak memanggilnya: “Kembali Kunang-Kunangku”
Tiba-tiba, satu suara memecah malam mendengungkan irama
Tepat mengena di gendang telinga kananku“suara adzan yang menyeru berubah makna menjadi lantunan irama hampa, yang kini tak lagi bermakna apa-apa”
Lalu, satu cahaya berpenjar, berkeliling di depan wajahku
Dan dengan cepat masuk melalui lubang telinga kiriku; membisikkan pesan yang dengannya membuatku tersungkur dan malu.
Dia bilang padaku;“Diam, diamlah Kau hai Manusia!”
Tidakkah Kau sadar, bahwa kecongkakan dan angkuhnya dirimu yang membuatku pergi
Kalian menyembah peradaban, dengan mengagungkan sejuta keberhasilan kalian dan kini kau tunduk pada Dunia.
Sadarlah kau.
Diam.
Dan tak perlu memanggilku lagi hanya untuk kembali menari di depan wajahmu.
Bukankah kau begitu hebatnya?
Membanggakan capaian hasil teknologi yang kalian dengungkan sebagai moderinisasi.
Tahukah?
Kalian secara tak sadar telah menyuruhku pergi
Lalu, kau juga dengan kesadaran bodohmu memanggilku kembali
Tapi, setelah itu kau tak benar-benar menjaga kehadiranku”
Setelahnya, suasana jadi hening.
Sepi tanpa kata.
Ia, sang Kunang-Kunang telah pergi.
Lalu aku tersadar.
Kunang-Kunang pergi karena modernisasi yang dibanggakan
Aku menyesal.
Dan takkan memanggil kunang-kunang itu lagi.
Tapi, kubiarkan Ia berpenjar dalam batinku sebagai cahaya abadi.
Saat ini,Kunang-Kunang itu sekarat, tapi takkan mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bacalah, kemudian menuliskannya kembali. Buatlah sesuatu untuk dikenang.