Aku terbangun agak siang hari ini
setelah waktu tidurku semalam diambil alih oleh keinginanku untuk menunggu
pagi. Menunggu pagi memang kembali menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. Betapa
tidak, sekarang bahkan aku sulit membedakan antara malam dan siang jika bukan
karena Mataharinya yang tak ada ketika malam. Itu karena aku kadang tak mampu
tidur di malam hari sampai pagi menjelang dan mengistirahatkan raga saat
matahari mulai membakar dengan hangat cahayanya. Dan saat terbangun hari sudah
kembali gelap. Dan aku tak bisa lagi pejamkan mata di waktu tidur normal
menurut kebanyakan orang.
Tapi bukan hanya itu yang terjadi,
entah kenapa juga saya suka menunggu datangnya hujan turun. Saya merindukan
derai air yang menitih di bawah oleh angin, merindukan lantunan syair dari
iarama yang diciptakannya. Merindukan pesan kerinduan Langit itu pada Bumi.
Yah, saya harus akui kalau saya mencintai hujan. mencintainya untuk sebuah
alasan yang masih belum mampu saya jelaskan, kenapa?. entahlah, tapi aku
mencintai hujan. Mencintainya seperti mencintaimu.
Aku mencintainya, bahkan jika banyak
orang yang menolak keberadaannya. Aku mencintainya, meskipun kadang disalahkan
atas musibah yang dituduhkan kepadanya. Aku mencintainya karena kutahu ia rezky
dari Tuhan bagi Penghuni Bumi. Seperti aku memahamimu sebagai rezky dari Tuhan
untukku. Karenanya aku mencintaimu sebagai terima kasihku pada Tuhan. Yah,
itulah alasan kenapa Aku mencintaimu seperti Aku mencintai Hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar