Minggu, 28 September 2014

Aku Mencintaimu Seperti Aku Mencintai Hujan


Aku terbangun agak siang hari ini setelah waktu tidurku semalam diambil alih oleh keinginanku untuk menunggu pagi. Menunggu pagi memang kembali menjadi kebiasaanku akhir-akhir ini. Betapa tidak, sekarang bahkan aku sulit membedakan antara malam dan siang jika bukan karena Mataharinya yang tak ada ketika malam. Itu karena aku kadang tak mampu tidur di malam hari sampai pagi menjelang dan mengistirahatkan raga saat matahari mulai membakar dengan hangat cahayanya. Dan saat terbangun hari sudah kembali gelap. Dan aku tak bisa lagi pejamkan mata di waktu tidur normal menurut kebanyakan orang.

Tapi bukan hanya itu yang terjadi, entah kenapa juga saya suka menunggu datangnya hujan turun. Saya merindukan derai air yang menitih di bawah oleh angin, merindukan lantunan syair dari iarama yang diciptakannya. Merindukan pesan kerinduan Langit itu pada Bumi. Yah, saya harus akui kalau saya mencintai hujan. mencintainya untuk sebuah alasan yang masih belum mampu saya jelaskan, kenapa?. entahlah, tapi aku mencintai hujan. Mencintainya seperti mencintaimu.
Aku mencintainya, bahkan jika banyak orang yang menolak keberadaannya. Aku mencintainya, meskipun kadang disalahkan atas musibah yang dituduhkan kepadanya. Aku mencintainya karena kutahu ia rezky dari Tuhan bagi Penghuni Bumi. Seperti aku memahamimu sebagai rezky dari Tuhan untukku. Karenanya aku mencintaimu sebagai terima kasihku pada Tuhan. Yah, itulah alasan kenapa Aku mencintaimu seperti Aku mencintai Hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bacalah, kemudian menuliskannya kembali. Buatlah sesuatu untuk dikenang.