Mentari datang dengan senyumnya pagi ini, lalu kemudian berubah jadi amarah
seakan ingin mengutuk Manusia yg masih saja tertidur. Lewat celah
jendela yg sebenarnya masih tertutup rapat, cahayanya merembes masuk,
mulai menusuk-nusuk wajah yg terlihat kusut itu. Tapi, tampak tak
menghiraukannya Ia masih saja asyik di alam bawah sadarnya.
Teriakan 'jam weker' yg biasanya distel setiap pukul 5 pagi sudah
berkali kali menggumpat, tapi ia tetap tak peduli. Bahkan tampak semakin terlelap.
Tak lama kemudian, tiba-tiba wajah yg kusut itu berubah jadi pucat
pasih dan tergambar jelas ketakutan disana. Bahkan dari pelupuk mata yg
masih tertutup itu keluar butiran air yg kemudian menjelma bak sungai yg
mengalir di daerah gersang. Menitih jatuh di atas bantal yg juga setia
menjadi teman tidurnya. Sesekali Ia kemudian teriak, meminta ampun dan
memohon untuk hidup. Seakan ia sedang berhadapan dgn sosok yg begitu
menakutkan. Ia terus bergumam, meminta dan memohon sementara air matanya mengalir deras.
Benar saja, di Alam bawah sadarnya; Sekarang Ia sedang berada di
tempat yg gelap sendiri. Tempat yg lebih mirip rawa dengan tanaman
gersang
sekitarnya; pohon-pohon yg sengsara tanpa daun menempel di tubuhnya.
Nafasnya tersendak, kesulitan untuk bernafas karena memang oksigen pun
kurang. Sebagian dari tubuhnya kini tak terlihat, tertarik oleh lumpur
yg pekat dan bau. Ia hanya sempat berpegang pada suatu batang pohon
berduri yg gersang yg kini menjadi merah oleh darah dari kulit tangannya
yg robek oleh duri-duri yg kejam. Di tengah gelap, sesekali Ia
menyaksikan cahaya berpenjar yg memperlihatkan satu bayangan Manusia
bersayap. Tak salah lagi, itu adalah sosok Iblis yg berwujud Malaikat
datang padanya. Ketakutannya semakin menjadi karena semakin erat saja
genggaman dari lumpur yg sudah menenggelamkan 2/3 tubuhnya. Nafasnya semakin tersengal dan air matanya terus mengalir.
Ia, kemudian didatangi oleh Iblis yg sebelumnya menjadi temannya. Ia mengadu dan meminta bantuan pada Iblis itu.
"Hai sahabatku, kenapa kau tak segera menolongku. Bukankah kau
berjanji untuk membantuku dalam keadaan apapun. Kita adalah teman.
Bantulah aku,
tolong angkat aku dari sini. Aku susah bernafas, tanganku terluka
seakan ingin lepas dari badanku. Tolonglah, aku masih ingin hidup. Hai,
Iblis bukankah kau punya kekuatan yg pernah kau tunjukkan padaku? Kenapa
kau
tak segera menolongku? Tidakkah kau rasakan penderitaanku?"
Iblis lalu melebarkan sayapnya yg tadi menutupi tubuhnya, darah
mengalir dari tubuh Iblis, tangan dirantai, bahkan kakinya pun terantai
dan sulit bergerak bebas. Lalu Iblis pun tertawa sambil berujar dengan
lirih "Kau manusia yg sudah menjadi temanku, di dunia aku membantu
wujudkan
semua kesenanganmu. Sekarang disini kau harus membayar semua
perlakuanku atasmu dngn menemaniku disini untuk selamanya. Sesungguhnya
kau adalah orang bodoh yg terperdaya oleh kepalsuanku memberimu
kesenangan. Kau tak
mengerti arti kehidupanmu. Kasihan nasibmu. Kau orang celaka dan akan bersamaku."
Setelah menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Iblis tersungkur tak
berdaya. Dan seketika muncul sosok cahaya yg putih menyilaukan dngn
wujud Manusia bersayap putih. Ia adalah Malaikat yg ditugaskan
menggiring Iblis. Sayapnya mengepak dan cahayanya memenuhi kegelapan yg
pekat tadi. Disana tampak wajah Iblis yg buruk, tak seperti dgn rupanya
yg sangat menarik ketika pertama bertemu dngn Manusia itu.
Iblis yg juga seakan tersengal, memandang penuh cemas pada sosok
Malaikat itu. Berlinang air mata Iblis brtanya "sudah tibakah waktunya
hisab? Tibakah waktuku ke Tempat kembaliku? Tak adakah waktu yg
diberikan kesempatan untukku kembali bersujud pada Adam? Dimana dia?
Bisakah engkau mengantarkanku kepadanya?"
Malaikat berujar "tak ada lagi kesempatan, sekarang ikutlah dngnku menuju tempat yg dijanjikan untukmu!"
Iblis menggumpal putus asa; "kalau begitu bawa manusia itu
bersamaku, dia adalah temanku dan menjadi pnyembahku. Jadikan dia
temanku di tempat itu. Aku ingin dia. Bawa dia bersamaku"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar