Jumat, 26 September 2014

JANGAN TERGODA!!!

Mentari datang dengan senyumnya pagi ini, lalu kemudian berubah jadi amarah
seakan ingin mengutuk Manusia yg masih saja tertidur. Lewat celah jendela yg sebenarnya masih tertutup rapat, cahayanya merembes masuk, mulai menusuk-nusuk wajah yg terlihat kusut itu. Tapi, tampak tak
menghiraukannya Ia masih saja asyik di alam bawah sadarnya.
Teriakan 'jam weker' yg biasanya distel setiap pukul 5 pagi sudah
berkali kali menggumpat, tapi ia tetap tak peduli. Bahkan tampak semakin terlelap.


Tak lama kemudian, tiba-tiba wajah yg kusut itu berubah jadi pucat pasih dan tergambar jelas ketakutan disana. Bahkan dari pelupuk mata yg masih tertutup itu keluar butiran air yg kemudian menjelma bak sungai yg mengalir di daerah gersang. Menitih jatuh di atas bantal yg juga setia menjadi teman tidurnya. Sesekali Ia kemudian teriak, meminta ampun dan memohon untuk hidup. Seakan ia sedang berhadapan dgn sosok yg begitu
menakutkan. Ia terus bergumam, meminta dan memohon sementara air matanya mengalir deras.
Benar saja, di Alam bawah sadarnya; Sekarang Ia sedang berada di tempat yg gelap sendiri. Tempat yg lebih mirip rawa dengan tanaman gersang
sekitarnya; pohon-pohon yg sengsara tanpa daun menempel di tubuhnya. Nafasnya tersendak, kesulitan untuk bernafas karena memang oksigen pun kurang. Sebagian dari tubuhnya kini tak terlihat, tertarik oleh lumpur
yg pekat dan bau. Ia hanya sempat berpegang pada suatu batang pohon berduri yg gersang yg kini menjadi merah oleh darah dari kulit tangannya yg robek oleh duri-duri yg kejam. Di tengah gelap, sesekali Ia menyaksikan cahaya berpenjar yg memperlihatkan satu bayangan Manusia bersayap. Tak salah lagi, itu adalah sosok Iblis yg berwujud Malaikat datang padanya. Ketakutannya semakin menjadi karena semakin erat saja
genggaman dari lumpur yg sudah menenggelamkan 2/3 tubuhnya. Nafasnya semakin tersengal dan air matanya terus mengalir.
Ia, kemudian didatangi oleh Iblis yg sebelumnya menjadi temannya. Ia mengadu dan meminta bantuan pada Iblis itu.
"Hai sahabatku, kenapa kau tak segera menolongku. Bukankah kau berjanji untuk membantuku dalam keadaan apapun. Kita adalah teman. Bantulah aku,
tolong angkat aku dari sini. Aku susah bernafas, tanganku terluka seakan ingin lepas dari badanku. Tolonglah, aku masih ingin hidup. Hai, Iblis bukankah kau punya kekuatan yg pernah kau tunjukkan padaku? Kenapa kau
tak segera menolongku? Tidakkah kau rasakan penderitaanku?"
Iblis lalu melebarkan sayapnya yg tadi menutupi tubuhnya, darah mengalir dari tubuh Iblis, tangan dirantai, bahkan kakinya pun terantai dan sulit bergerak bebas. Lalu Iblis pun tertawa sambil berujar dengan lirih "Kau manusia yg sudah menjadi temanku, di dunia aku membantu wujudkan
semua kesenanganmu. Sekarang disini kau harus membayar semua perlakuanku atasmu dngn menemaniku disini untuk selamanya. Sesungguhnya kau adalah orang bodoh yg terperdaya oleh kepalsuanku memberimu kesenangan. Kau tak
mengerti arti kehidupanmu. Kasihan nasibmu. Kau orang celaka dan akan bersamaku."
Setelah menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Iblis tersungkur tak berdaya. Dan seketika muncul sosok cahaya yg putih menyilaukan dngn wujud Manusia bersayap putih. Ia adalah Malaikat yg ditugaskan menggiring Iblis. Sayapnya mengepak dan cahayanya memenuhi kegelapan yg pekat tadi. Disana tampak wajah Iblis yg buruk, tak seperti dgn rupanya yg sangat menarik ketika pertama bertemu dngn Manusia itu.
Iblis yg juga seakan tersengal, memandang penuh cemas pada sosok Malaikat itu. Berlinang air mata Iblis brtanya "sudah tibakah waktunya hisab? Tibakah waktuku ke Tempat kembaliku? Tak adakah waktu yg diberikan kesempatan untukku kembali bersujud pada Adam? Dimana dia? Bisakah engkau mengantarkanku kepadanya?"
Malaikat berujar "tak ada lagi kesempatan, sekarang ikutlah dngnku menuju tempat yg dijanjikan untukmu!"
Iblis menggumpal putus asa; "kalau begitu bawa manusia itu bersamaku, dia adalah temanku dan menjadi pnyembahku. Jadikan dia temanku di tempat itu. Aku ingin dia. Bawa dia bersamaku"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bacalah, kemudian menuliskannya kembali. Buatlah sesuatu untuk dikenang.