Jumat, 28 Oktober 2016

Aku, Kau dan Puisi

Aku, Kau dan Puisi

Aku adalah lelaki yang mencintai hujan.
Mencintai setiap bulir yang jatuh berserakan.
Membuat basah, lembab, menggenang dan terkenang.
Aku mencintai hujan yang gerimis.
Kata orang itu romantis.
'Seperti Aku', begitu katamu.

Kau adalah perempuan yang kusebut Pelangi.
Pelangi yang datang terbias selepas hujan berhenti.
Hujan dianggap kesedihan bagi sebagian orang.
Dan Pelangi datang menghapus jejak tangis hujan.
Tapi 'tidak' bagiku.
Hujan dan Pelangi adalah dua hal yang aku cintai.
Hujan yang romantis dan Pelangi yang manis.
Kau adalah Pelangiku.
Memberi warna dan warni dalam cakrawala hidupku.
Bukan hanya tujuh, tapi banyak warna.
Sebanyak rindu yang tumbuh untukmu.

Dan puisi,
Puisi adalah hal lain yang aku cintai.
Tentang hujan, pelangi selalu aku menceritakannya dalam puisi.
Puisi adalah caraku mengobati rindu.
Rindu yang kadang datang tiba-tiba bagai anak panah yang melesat tepat mengena ke jantung hati.
Saat itulah aku menuliskannya.
Menuangkan rasa sakit itu dalam rupa kata agar ia tak berpura.


Aku adalah lelaki yang mencintaimu seperti mencintai hujan.
Kau adalah Pelangi setelahnya.
Dan puisi adalah caraku mengabadikannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bacalah, kemudian menuliskannya kembali. Buatlah sesuatu untuk dikenang.