Seorang bertanya, "Kenapa setiap tahun selalu saja ada anak muda dan mudi yang yang meskipun muslim ikut merayakan valentine?"
Saya tersenyum.
Valentine bagi mereka jelas adanya sebagai hari kasih sayang. Sebagaimana fitrahnya manusia pasti ingin berkasih sayang. Maka sebuah momentum yang dianggap sebagai hari kasih sayang menjadi kabar gembira bagi mereka untuk mengekspresikan dirinya dalam berbagi kasih sayang.
Hal itu dikarenakan muda mudi ini kehilangan teladan sebagai sosok yang bisa diambil contoh dalam berkasih sayang. Makanya saat ada yang mempropagandakan hari kasih sayang dengan kisah kasihnya yang dianggap dramatis dan romantis, membuat mereka mudah terprovokasi.
Para agamawan yang melabeli dirinya ustadz berlomba-lomba mengharamkan hari kasih sayang. Tak mau ketinggalan aparat pemerintahan pun ikut mengedarkan surat larangan. Hanya saja, mereka hanya sampai sebatas menolak dan melarang. Tanpa ada upaya solutif membangun kesadaran bagi muda mudi untuk mengekspresikan diri dalam kasih sayang yang memang adalah fitrah dirinya.
Jadinya setiap tahun mereka harus terus mengulangi hal yang sama. Menolak dan melarang dengan ancaman yang 'horor' untuk menakuti. Jadinya hasrat mereka yang rindu kasih sayang dilakukan sembunyi-sembunyi.
Lalu bagaimanakah seharusnya menyikapi?
Andai saja agamawan yang melabeli diri mereka ustadz itu beserta pemerintahan yang menolak dan melarang itu bersepakat untuk membuat hari kasih sayang serupa. Kita sebut Hari Kasih Sayang Syariah (misalkan). Tapi bukan dengan sejarah valentine yang katanya melegalkan cinta terlarang mereka. Tapi dengan kisah pertemuan Nabi Adam As dan Hawa, Kisah cinta Nabi Muhammad Saww dan St. Khadijah Al Qurba atau kisah Imam Ali Bin Abi Thalib K.W dengan Sayyifah Fatimah Az Zahra yang dijadikan teladan. Bahwa betapa kasih sayang mereka disatukan dalam ridha Tuhan dan restu keluarga masing-masing.
Yah, andai saja mereka mau menjadikan hari pernikahan tokoh-tokoh yang pantas dijadikan teladan itu sebagai hari kasih sayang. Tapi sayangnya, mereka yang paling banter teriak "saya muslim, saya menolak valentine" adalah mereka juga yang suka teriak "saya muslim, maulid itu bid'ah".
Jadi berharap mereka setuju menjadikan Hari Kasih Sayang versi Islami sepertinya sebuah kemustahilan. Merayakan Hari Lahir Nabi saja dibilang bid'ah, apalagi merayakan hari pernikahan Nabi. Tapi biarlah, mereka mungkin lebih suka teriak menolak supaya mereka bisa terlihat lebih islami setiap 14 februari. Yah...
Tapi, mari kita sama-sama mendukung "Saya Muslim, Saya Mendukung Hari Kasih Sayang!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar